Selasa, 17 Juli 2012

Kodok Hijau


Lima tahun yang lalu usaha penaklukkan gunung angsa hanya di lakoni oleh 5 orang cewek pemberani dan gigih tak kenal takut. Kalau di daftar itu ada Ami, Yuka, Widi, Resti dan Sarah. Sebelum melakukan pendakian seperti biasanya kelima orang cewek ini memohon izin kepada kakek penjaga gunung angsa yang tinggal dan berladang di kaki gunung itu.
Tak banyak wejangan yang diberikan sang kakek melihat penampilan kelima orang cewek ini bukanlah pendaki pemula namun sang kakek amat sangat mewanti-wanti agar tidak ada satu pun yang menginjak kodok hijau penunggu hutan di gunung itu apa lagi membuat mereka sampai mati. “kenapa emangnya kek kalau sampai ke injek” Resti angkat bicara untuk memuaskan rasa penasarannya. “mitos yang berkembang disini kalau sampai ada yang menginjak si kodok hijau itu maka dipastikan dia akan menikah atau memiliki pasangan berwajah jelek” si kakek menjelaskan dengan sedikit terbatuk-batuk.
“oke karna semuanya udah jelas baiknya kita segera berangkat” selesai bicara Yuka langsung berdiri diringi oleh ke 4 orang sahabat yang lain. Udara cukup dingin saat kelima orang cewek pendaki gunung itu memulai perjalanan mereka. Tak ada satupun yang mengeluh hanya senyum yang tergambar dari kelima wajah mereka. “ini adalah perjalanan pertama kita yang hanya cewek semua” Widi mulai memecah kediaman perjalanan mereka dan langsung ditimpali oleh Ami “yup benar Wid, jadi musti penuh kenangan, ya kan?”. “betul banget” ucap Sarah
Perjalanan mereka sudah sangat jauh ditengah gerimis dan jalanan yang licin tak sedikitpun mengurungkan niat mereka untuk menaklukkan puncak gunung angsa tanpa kehadiran seorang cowok pun. Tak bisa dipungkiri ini adalah cita-cita dan keinginan kelima bersahabat itu untuk bisa melakukan pendakian sampai puncak dan menikmati pemandangan hamparan awan putih bersama, sebelum salah satu atau kesemuanya mengakiri status mahasiswinya dan hengkang dari kumpulan MAPALA kampus.
Setelah hampir 7 jam perjalanan Widi berhenti sejenak sambil mengamati kondisi sekitarnya terlihat matahari sepertinya akan menenggelamkan diri di ufuk barat “eii kawan baiknya kita bangun tenda di sekitar sini dari pada ntar kemalaman”. “mhmm ide bagus, kaki ku dah mulai pegal nih” Resti langsung menghenyakkan pantatnya diatas rumput hijau yang lembab oleh gerimis hujan. Melihat tingkah Resti yang sudah terduduk dengan pasrah Yuka pun ikut-ikutan mencari tempat duduk setelah sebelumnya menurunkan tas ranselnya ketanah.
“okei teman-teman biar semuanya bisa berjalan dengan cepat lebih baik kita bagi tugas, Ami dan Widi nyari kayu bakar terus Yuka dan Resti ambil air, biar guwa yang bangun tenda, setuju”. “fine tapi lu jangan duduk doang ntar, bener-bener diri-in tuh tenda” Ami cukup sewot dengan pembagian tugas yang di buat sendiri oleh sarah. “ah udah lah, yok Res kita jalan biar cepet”. Ke empat sahabatnya mulai meninggalkan Sarah yang telah sibuk sendiri mematok-matok lokasi untuk tenda mereka.
Ami masih ngomel-ngomel sendiri karna mendapat tugas nyari kayu, benarnya dia lebih suka ngediri-in tenda ketimbang ngudek-ngudek hutan hanya untuk nyari ranting-ranting kering untuk dibakar “astaga naga ini apaan lembek-lembek dingin” seketika mata Ami melotot menyaksikan seoekor kodok hijau tergeletak tak berdaya dibawah telapak sepatunya Ami. “yaelah Mi mitosnya, lu bakal nikah ama orang jelek” Widi tergelak ngeliat ekspresi Ami yang sangat ketakutan akan kebenaran mitos gunung angsa itu. Widi berusaha mengambil beberapa buah ranting kering yang bisa dia raih dan menarik Ami untuk segera kembali ke lokasi tenda mereka.
“waduuuuh nih sungai jernih amit Yu’ guwa mandi bentar boleh nggak ?? seger nih kayaknya”. “ngaco lu udah sore nih, ntar penunggunya marah”. Yuka melompat-lompat dengan lincahnya diantara bebatuan sungai agar bisa sampai ketengah sungai untuk mengisi tempat airnya dan segera kembali ke lokasi tenda. Namun perhitungan Yuka tidak tepat sehingga kaki kanannya terpeleset dan untuk menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh Yuka menghentakkan kaki kirinya dengan cukup kuat namun “Ammmaaaaak kodok ijo” tanpa sengaja kaki kiri Yuka malah menginjak seekor kodok hijau yang sedari tadi telah ngejongkok di batu pijakan Yuka. “apa an Yuk?”. “kodok ijo Restiiii, guwa nggak mauuu kalo harus nikah ama cowok jelek”. Resti mulai cemas dan sangat berhati-hati saat melangkah memperhatikan jalan agar ia tida khilaf dan menewaskan seekor kodok hijau di kakinya seperti Yuka.
Yuka bersungut-sungut jalan mendahului Resti yang masih melangkah dengan sangat hati-hati sambil mengangkat sebuah tabung air karna Yuka sama sekali tidak menghiraukan tugasnya setelah dia menginjak seekor kodok hijau di kaki kirinya. “Yuka tungguin guwa dunk berat nih”. Yuka terus berjalan sama sekali tidak menghiraukan rengekkan Resti di belakangnya. “Aaaaaarrrgggg”. Seketika langkah kaki Yuka berhenti kala mendengar teriakkan histeris Resti yang masih berada beberapa meter di belakangnya. Tak pelak Yuka langsung berhamburan ke arah Resti untuk melihat kondisi sahabatnya yang tadi dia tinggalkan begitu saja. “ada apa Res ???? lu baik”  Resti tidak langsung menjawab pertanyan bertubi-tubi Yuka dan hanya mengantarkan pandangan Yuka kearah kakinya, tepat saat itu seekor kodok hijau telah nyelip dengan kondisi yang sangat mengganaskan dibawah sepatu Resti. “lu juga kena Res” hanya itu kata simpatik yang keluar dari mulut Yuka.
“lu sengaja kan memilih ngebangun tenda disini biar nggak terkena mitos gunung ini kan Sar” sesampai di lokasi tenda Yuka langsung menyerbu sarah dengan suara tinggi. Sarah yang masih kelelahan setelah berhasil mendirikan tenda sendirian hanya bingung sambil menghembuskan nafas keras sisa-sisa lelahnya. “udahlah Yuk ini juga bukan salah Sarah kok” Resti berusaha menenangkan Yuka yang sangat emosi setelah kaki kirinya menewaskan seekor kodok hijau di sungai tadi “lagi pula itu kan hanya mitos blum tentu benar juga kan”.
Tak ada satupun dari ketiganya yang berbicara, hanya bermain dengan pikiran masing-masing ketika terdengar suara tawa Widi yang semakin lama semakin keras. “lu knapa ketawa Wid ?” Sarah bersuara setelah kedua sahabatnya menampakkan batang hidung mereka beberapa meter dari tempat ketiganya berdiri. “ini kaki si Ami abis berciuman mesra dengan kodok hijau, berarti dia bakalan dapat laki orang jelek donk, ha. Ha.” Widi masih saja tak kuasa menahan tawanya dengan nasib yang menimpa Ami. Namun tak seorangpun dari Yuka Resti dan Sarah yang mengikuti aksi Widi. Ketiganya hanya melongo diam “kenapa kalian diam aja” tanya Ami yang langsung dijawab keras oleh Yuka “guwa dan Resti juga menginjaknya kecuali Sarah” tak disangka Widi semakin ngakak sambil memegangi perutnya dan menghentak-hentakkan kakinya hingga tanpa disadari kaki Widi menginjak dua ekor kodok sekaligus sampai isi perut keduanya muncrat kemana-mana.

Hari ini resepsi pernikahan Resti... Yuka, Ami dan Widi saling berpelukkan melepas rindu setelah 4 tahun perpisahan mereka diakhir acara wisuda dan tak pernah bertemu kembali karna masing-masing mengejar impiannya sendiri-sendiri. Ternyata mitos itu memang benar !!!! keempatnya Yuka, Ami, Widi dan Resti akhirnya menikah dengan pria-pria berwajah jelek. Hanya senyum terkulum diwajah mereka saat masing-masing memperkenalkan suaminya.
“ya ampuuuun” Ami terkejut luar biasa dengan mulut terbuka dan mata melotot menyaksikan sarah melenggang dengan bangganya sambil mengandeng seorang pria tinggi semampai dan berwajah tampan. “iii … itu Andrico Evan ? bintang filem keren yang lagi tenar tenarnyah ??” suara Resti bergetar karna tidak percaya yang di iyakan serempak oleh ketiga lainnya.
“hai semuaaaa, udah lama banget yah,  eeh iya kenalin Ric ini sahabat-sahabat ku” Rico menyalami ke empatnya secara bergantian sambil tidak lupa memamernya senyum manisnya yang menawan. “waaaah ternyata mitos itu beneran yah” kata widi sambil pandangannya menunjuk ke arah 4 orang pria jelek yang asyk mengobrol nggak jauh dari tempat mereka berdiri. “aaaah jangan gitu donk, jodoh itu ditangan Tuhan timpal Sarah, eeh ya mas mau minum?” Sarah melangkah santai setelah mendapat anggukkan pelan dari suaminya Rico.
“mhhmmm mas Rico boleh tanya nggak” Yuka sama sekali nggak bisa terima dengan nasib baik Sarah yang bisa menikah dengan pria tampan seperti Andrico Evan sedangkan mereka harus menerima mitos gunung angsa karna pernah menginjak kodok hijau disana. “apa” Rico memamerkan mata elangnya ke arah Yuka. “kok bisa sih nikah ama sarah, gimana cerita nya, dimana ketemunya???”. “sebenarnya, ini rahasia guwa sendiri, tapi jangan sampai di beri tau ke Sarah ya”. “oke” serentak ke empatnya menjawab sambil memasang wajah penasaran.  “dulu 2 tahun yang lalu guwa ada syuting iklan di puncak gunung angsa, nah pas turun gunung selesei syuting tanpa sengaja guwa menginjak kodok hijau” guuubbrrraaaaak ……

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...