Sabtu, 27 Desember 2014

Untukmu yang tidak bisa ku miliki


Seperti pagi pagi sebelumnya aku masih berdiri kaku di tempat yang telah mereka tetapkan untukku, menghirup setiap milibar udara yang berasal dari hembusan air conditioner yang tergantung memanjang tepat di atas pintu kaca yang selalu membuka menutup sendiri tiap kali ada orang yang keluar dari ruangan ini. Terminal kedatangan international Bandara Udara Minang Kabau. Sudah hampir dua tahun ruangan tertutup ini menjadi tempat aku berdiri setiap hari nya. Tanpa pernah lagi merasakan teriknya panas matahari siang di kota padang yang dapat mencoklatkan warna kulit dalam waktu singkat. Namun sesekali aku masih dapat merasakan hembusan udara luar saat penumpang berbondong bondong keluar dari ruangan ini.

Derap sepasang sepatu yang selalu membuat aku kangen selama dua tahun ini kembali terdengar dari ujung lorong pintu kayu tepat setelah suara hentaman daun pintu kayu itu menutup cukup membuat degup jantung ku bertambah kencang di setiap detiknya. Tidak lebih dari 3 menit aku akan dapat melihat sesosok pria tampan dengan tinggi badan semampai dan besar tubuhnya mendekati proporsional. Kulit sawo matang, mata tajam nya selalu sempurna dengan tatanan rapi rambut pendeknya kurasa, sehingga dia selalu mampu membuat aku terpukau dan terpesona dengan langkahnya yang tegap berjalan setiap paginya menuju ruangan dengan pintu kaca yang bertuliskan CUSTOMS dengan huruf kapital besar tepat berada disamping singgasana aku berdiri. 

Layar monitor yang tergatung ditengah tengah diding samping kanan ruangan ini masih menuliskan jam 07.23 wib, berarti aku masih harus menunggu 37 menit lagi untuk dapat menyaksikan tontonan yang slalu ku tunggu-tunggu setiap harinya, sesuai dengan jadwal mendaratnya pesawat dari Kuala Lumpur. Mungkin prosesi itu sangat biasa bagi setiap karyawan karyawan dari berbagai perusahaan dan instansi yang ditugaskan di terminal ini namun bagi ku prosesi itu adalah sebuah ritual yang sangat memanjakan mata ku. 

Menyaksikan pria itu bekerja dengan gagahnya dibalik dua layar monitor didepannya untuk memerikasa barang-barang bawaan setiap penumpang dan sesekali berdiri untuk memeriksa barang-barang yang terdeteksi oleh mesin detector. 

“Perhatian-perhatian pesawat udara .......” pengumuman pemberitahuan pesawat mendarat kembali terdengar baak sebuah instruksi seorang pemimpin suara lembut wanita bagian informasi itu memanggil setiap karyawan yang di tugaskan di ruangan ini. Tidak sampai 5 menit ruangan ini telah kembali di tempati oleh mereka-mereka dengan posisinya masing-masing. Tapi sudut kanan sebelum pintu keluar tempat aku berdiri masih menyisakan garis lurus yang kosong dengan kursi dan sepasang monitor berdiri tempat Egi berkerja, begitulah pria tampan itu biasa di panggil. 

Seulas senyum terasa mengembang di kedua bibirku saat Egi keluar dari ruangannya sambil berkelakar ringan dengan temannya yang berjalan santai di samping kanannya. Egi kembali duduk dikursinya dan memfokuskan pandangan kedua bola matanya menuju layar monitor mesin detector. Keseriusannya bekerja dan tatapan tajamnya tak pernah sekalipun luput dari kedua manik bola mataku, 

Eeeeeh dia berdiri, Egi berdiri dari kursinya dan melangkah kearah box panjang setinggi lutut orang dewasa yang dilapisi oleh karpet hitam bersamaan dengan salah seorang wanita muda melangkah sambil mengangkat kopernya keatas box panjang itu. gerak bibir Egi saat berbicara singkat dengan wanita itu sangat jelas keliatan oleh kedua mataku, hingga akhirnya dia diam dan wanita muda itu membuka tutup kopernya. Egi terdiam sejenak sampai akhirnya dia menggerakkan kedua tangannya untuk membongkar isi koper itu. Hahahahahahaha keliatan sekali Egi salting saat kedua tangan nya memegang dan menggeser kesamping benda yang memiliki dua tonjolan setengah bola berukuran 34/75 kurasa. mhmmm dasar Egi mudah sekali mengetahuinya kalau dia adalah pria muda yang masih lajang. aku benar benar menikmati gerak geriknya saat bekerja sampai tanpa kusadari aku telah memiringkan kepalaku ke kiri karna pandangan garis lurus ku terhalang oleh tubuh besar seorang Bule jangkung yang sepertinya dia kehilangan nomor bagasinya. 

Egi terlihat sangat energik dan cekatan dalam melakukan tugasnya untuk pemeriksaan barang penumpang yang akan memasuki wilayah Indonesia. bergerak kesana kesitu fokus memperhatikan layar monitor mesin detector dan tegas saat melakukan pemeriksaan barang bawaan penumpang. "aaaah jangan kesitu dong Egi, Banner sialan itu menghalangi tubuhmu dari pandangan ku" dengan kesal aku membathin ketika Egi berdiri dibalik Banner tinggi yang terletak di dalam kawasan pemeriksaan bea cukai.

Begitulah kehidupan ku selama 2 tahun terakhir ini. meskipun tujuan utama aku di letakkan di tempat ini bukanlah hanya untuk memperhatikan Egi tapi setiap hari setiap detik dia bekerja aku tidak pernah sekalipun melepaskan pandangan mataku dari dirinya. kekaguman kesukaan memenjarakan perasaan ku hanya tertuju kepadanya. walaupun aku hanya akan dapat memperhatikannya dan walaupun aku hanya berdiri sepuluh langkah dari tempatnya bekerja, tapi tubuh tangan dan hati kaku ku takkan pernah bisa untuk menggapainya, aku tau sangat tau keinginan ini untuk bisa memilikinya amat sangat besar menyesak dalam hati ku namun hanya akan berakhir sebagai sebuah asa. 

15.00 wib. waktu yang tertulis di layar monitor yang tergantung di dinding tengah ruangan ini berganti bersamaan  dengan keluarnya penumpang terakhir dari terminal kedatangan ini. satu persatu petugas petugas dan karyawan yang telah bekerja di ruangan ini mulai beranjak keluar meninggalkan posisi dan tempatnya masing-masing. begitu juga dengan para petugas bea cukai yang telah bekerja sedari pagi.

Egi memfokuskan pandangannya menatapku dan melangkahkan kakiknya  selangkah demi selangkah kearah ku. gleeegg, aku merasakan kerongkongan ku tercekat dan degub jantung ku berdentam dentam sangat keras di dalam rongga dadaku, sehingga membuat setiap partikel partikel kecil yang membentuk tubuh ku ini seperti meloncat loncat dengan liarnya agar bisa keluar dari jaringan jaringan kokoh tubuhku, mungkin wajahku pucat pasi saat ini, untuk pertama kalinya Egi pria tampan yang ku kagumi dua tahun terakhir ini berjalan kearah ku, sekarang dia berada tepat satu langkah di depan ku, bahkan aku dengan leluasa dapat mencium aroma parfum yang melekat di tubuhnya, kedua matanya menatap lurus ke dalam manik manik mataku, "Gi kenapa ???, ngapaian lu berdiri disitu?" Dio yang ku tau itu namanya memanggil Egi yang berdiri tegap di depan ku. "nggak tau ya Dio, gw ngerasa cewek ini selalu menatap kearah gw dan mengikuti setiap gerak gerik gw." Egi mengangkat tangan kanannya hingga tiga jarinya menyentuh kelopak mata kiri ku kemudian turun perlahan ke pipi kiriku, mengusap puncak hidungku, hingga aku merasakan telunjuknya menekan bibir atas ku menjejali setiap senti bibir bawah ku. "ha ha ha ha (dio tergelak menertawakan pernyataan konyol Egi menurut nya) lu bawa pulang aja Gi". "he he he he (Egi ikut tertawa walaupun matanya tak lepas dari wajah ku) mhmmmmm boleh juga kalau bisa gw jadi in istri". "Gila lu" dio tersenyum mengejek sambil berjalan menuju pintu kaca yang membuka tepat di depannya. 

Egi masih berdiri kaku di depan ku memandangku dan menelanjangi setiap centi permungkaan wajah ku, "mhmmmmm aneh sekali, knapa gw merasa lu selalu melihat dan memperhatikan gw saat bekerja" Egi berguman sendiri sambil mendekatkan wajahnya hingga bulu bulu halus pipiku dapat merasakan hangatnya hembusan nafas nya. untuk sekian detik Egi membiarkan wajahnya hanya berjarak 10 cm dari wajahku. aku merasakan buliran buliran keringat membanjiri setiap permungkaan kulit tubuh ku, namun aku masih bersyukur karna dia tidak akan pernah melihat itu. 

Egi tersenyum sekilas ke arah ku kemudian dia membalikkan badannya berjalan santai keluar dari ruangan ini dan tidak mempedulikan kan pintu kaca buram menutup di belakangya menghalangi pandangan mataku yang masih memperhatikan punggung Egi yang masih terlihat gagah menurutku.

"Yang mana pak?, patung perempuan minang ini" aku kaget mendengar suara berat seorang laki laki tinggi besar yang tiba tiba telah berdiri disamping ku, membuyarkan keterpanaan sejenak ku akan sentuhan jari jemari Egi di wajahku. "yup angkat" suara laki laki lain terdengar nyaring dari intercom pria besar itu memberi perintah. aku merasakan kedua tangan kekar dan kuat mengangkat tubuh ku dan membopong ku di atas bahunya. kemana laki laki ini akan membawaku, memindahkan ku atau kah akan mengungkung di dalam gudang gelap dan senyap. kenyataan harus ku terima dengan pasrah, karna hari ini adalah terkahir kalinya aku dapat menyaksikan kelincahan Egi kala berkerja, terakhir aku mendengarkan suara tegasnya, dan pertama serta terakhir kalinya aku merasakan sentuhan lembut tangan Egi yang sangat aku dambakan.






Kamis, 14 Agustus 2014

Judulnya Selfie


Selfie !!!!!!

Sebenarnya aku lahir sama sekali nggak bawa sifat narchis atau PeDe tinggi apalagi buat selfie-selfie an, jangankan untuk selfie sendiri, difoto in ama orang lain pun maless, jeblok di Percaya Diri soalnya. merasa kurang baguslah, penampilan lagi jelek lah dan lainnya.
HIV, TBC, Demam Berdarah itu sih katanya adalah penyakit menular kecuali Schizofrenia kali yah itu bukan salah satu penyakit menular cuman keturunan aja ^_^ Tapi nih yah ternyata selfie juga salah satu penyakit menular lhoooo (masak iya?) pada nggak percaya pasti ......

Awalnya sih gara-gara secara nggak sengaja aku kecebur ke suatu lingkungan yang isinya orang-orang narchis berat, nggak ceweknya, nggak cowoknya rata-rata pada suka selfie semua, dan tanpa ku sadari dalam waktu singkat yaa ketularan selfie lah yang sok narchis suka selfie-selfie an diberbagai moment.
makan siang selfie, nggak ada kerja selfie, kebagian shift jaga di bandara selfie, bahkan lagi ada kerjaan bertumpuk tumpuk pun masih aja selfie an (sttt asal nggak ketauan ama atasan aja bisa berabe tuuh hi hi hi hi)
kebayang nggak satu sesi selfie aja bisa mencapai 30 hingga 50 jepretan apalagi lebih dari 10 sesi yaah ??? ckckckkckck.
makanya sekarang aku punya kebiasan baru ngehapus hapusin foto foto lama yang nggak menarik ... masalahnya nggak muat broo memori hp ku kecil hihihihi. Biar aktivitas perselfian tetap lanjut tanpa ada kendala full ^_^





Tapi kata keven foto selfienya musti yang keliatan gigi yaaaah !!!! 
Ini demi demi ya okelah tak kasih liat juga deeeh gigi gigi jeleknya



























Kalo yang ini termasuk selfie juga nggak yaaah ????



Intinya yaaah Percaya diri itu bisa di pupuk (bukan dalam makna tanaman lho) tapi PeDe itu sendiri bisa dibangun asalkan ada kemauan, mencoba dan berusaha sehingga terbiasa dan tanpa di sadari rasa percaya diri itu bisa menjadi lebih baik

"nggak nyambung yah kesimpulannya ????" hi hi hi hi hi tapi gpp kan asalkan bisa ikutan dalam selfie competition nya keven ^_^


http://www.claude-c-kenni.blogspot.com/2014/07/emotional-flutter-selfie-competition.html

Selasa, 25 Maret 2014

Schizophrenia part 2

Entah akibat perkembangan dan kemajuan jaman atau keimanan yang semakin menipis sehingga akhir-akhir ini saya banyak menemukan orang-orang dengan gangguan mental parah atau bisa juga disebut dengan gila (schizophrenia). Seperti satu sore saat saya snewen dengan tuntutan kerja sehingga pulang kerja naik angkot tanpa berusa untuk tengok kanan kiri langsung duduk dan fokus memandang keluar jendela, sejuk ditiup angin sore tapi lama kelamaan saya sadar kalau ada perbincangan aneh yang berasal dari orang sebelah saya, kontan langsung menengok kearah orang yang duduk tepat disebelah saya yang sedang sibuk berbicara sendiri dengan tingkah polah yang tidak wajar. Walaupun penampilan masih tergolong bersih tapi hidung saya mengendus bau-bau khas nya orang penderita schizophrenia. Wooww mau teriak nanti memancing perhatian si orgil, mau geser, geser kemana dalam kondisi angkotnya penuh sesak gituh, maklum waktu itu adalah jam pulang kerja. Tanpa pikir panjang saya minta berhenti dan turun, mana kuat duduk deket orang gila selama 30 menitan. Ehtah lagi sial atau emang lagi musimnya dihari yang sama saya bertemu dengan 2 orang gila sekaligus, yang ke 2 pada saat perjalanan menuju rumah, dimana saya musti melewati gang senggol pemisah antara 2 gedung kampus yang satu-satunya jalan pintas untuk ke rumah. Saya punya kebiasan kalau lagi jalan kaki itu nunduk, awalnya sih hanya untuk melindungi wajah aja dari panas matahari, biar nggak item tapi lama kelamaan jadi kebaisaan, walaupun saat itu udah lewat waktu magrib. Selangkah dua langkah tiga langkah .. opss kaki siapa yang selonjoran di jalan, hedeeuuuh ternyata ketemu orang gila lagi. Kali ini si orgil lagi selonjorran melintang gang sambil asik ngebuka nasi bungkus yang siapa saja melihat pasti bisa menerka itu adalah bungkusan nasi sisa. Disampingnya tergeletak beberapa bungkusan nasi yang kalau aku lihat sekilas ada 5 atau 6 man lah. Waduh gimana ini mau mutar balik kejauhan, mau lanjut takut juga, jangan-jangan ntar tuh orgil megang dan meluk saya … Enggaaaak.
Pikir punya pikir ya udah terus aja sambil berdo’a, kalau terjadi apa-apa ntar bisa teriak mana tau bapak-bapak security kampus mau nolongin kan jarak tempat aku berdiri dan pos satpan cuman 5 meteran.

Dua hari yang lalu saat saya lagi asik pilah pilih jeruk di salah satu kios buah, saya melihat salah seorang kenalan yang sudah cukup lama tidak ketemu tapi sungguhpun begitu saya masih ingat siapa namanya, mau negur tapi koq diperhatikan penampilannya sekarang agak aneh, tidak seperti biasanya yang kalem dan rapi. Sekarang bajunya seleboran, rambut acak-acakan, aku hanya bisa diam dan perhatikan dari jauh, dia melangkah satu, dua, tiga, empat berhenti komat kamit sendiri, melangkah lagi berhenti lagi komat kamit lagi, duuuh udah sedeng nih orang untung g’ jadi negur.

Paling parah tuh mingu kemaren, saya kedatangan tamu yang mengaku sebagai salah seorang teman sekolah kakak saya sewaktu SMA, tapi aku bingung koq rada-rada aneh yah, dia berbicara tapi pandangan matanya liar, nggak fokus bergerak gerak dengan cepat, gila nih orang kenapa koq gini kali. Karna emang kakak saya nggak dirumah yah saya bilang aja apa adanya. Trus tuh cowok pergi dan berjalan tapi dengan aksi-aksi yang nggak wajar, seprti layaknya seorang pesilat ulung mukul-mukul dan nendang-nendang udara sendiri .. waduuuhhhhh
Itu sih 4 pengalaman ketemu penderita schizophrenia paling berkesan dalam 1 bulan terakhir ini. Selain aksi-aksi penderita schizophrenia lainnya yang pernah saya jumpai, seperti saat saya terpaksa terjebak macet di jalan raya hanya gara-gara seorang penderita schizophrenia berbuat baik dengan menyapu jalan raya sampai bersih tepat  siang hari, atau mendengarkan ceramah agama seorang penderita schizophrenia di tengah lalu lalang keramaian orang pembeli dan penjual di pasar sayur.

Penderita schizophrenia apabila mendapatkan penangan yang tepat memungkinkan bagi mereka untuk dapat kembali masuk kedalam masyarakat dan berlaku secara normal. Walaupun terkadang ada yang musti tergantung kepada obat-obatnya.
Kalau boleh berandai-andai, Jika saya jadi penguasa maka saya akan tangkap semua penderita schizophrenia jalanan dan memasukkannya kedalam RSJ khusus orang gila jalanan. Nah looo biayanya darimana?
Gampang saya kumpulin semua uang para koruptor yang sudah mengambil uang Negara untuk akomodasi dan biaya di RSJ tersebut. Kan lumayan tuh usaha dan jerih payah para koruptor dapat bermanfaat bagi orang gila …. ^_^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...