Sabtu, 28 Februari 2015

Malam Itu 3

Wek end kali ini benar benar liburan yang aku tunggu-tunggu. bagaimana tidak satu minggu full aku telah dibikin pusing dengan angka nol nol yang jumlahnya membuat aku muak, kuitansi-kuitansi kuning berasa seperti mempengaruhi bola mata ku sehingga aku merasakan setiap benda yang aku lihat berubah warna menjadi kuning, di tambah lagi jendela aplikasi Sistem Akutansi yang kecil dengan huruf-hurufnya yang super mini bisa bikin mata ku bertambah minus. aaaaahh dasar manusia memang tak pernah bersyukur yah, sudah Alhamdulillah bisa medapatkan pekerjaan malah mengidam idamkan liburan panjang. 

Tapi selain alasan ingin liburan dari angka-angka, dokumen dan kuitansi aku merindukan sabtu mingggu itu untuk melepaskan kehausan ku untuk nonton streaming drama-drama korea yang menjadi kesuka an ku 4 tahun terakhir ini. paket internet yang di bayar Ayahku cukup besar jadi Aku tidak akan pernah kesal karna drama dan filem yang aku tonton harus buffering atau tiba-tiba jadi kaku karna koneksi internetnya terputus... he he he he.

seperti biasanya aku bisa bebas ngenet sesuka hatiku saat semua orang-orang di rumah telah tidur, yaa kira-kira jam 22.00 wib lah. nggak tanggung-tanggung 3-4 film bisa aku lahap tanpa berhenti, palingan aku akan tidur sekitaran jam 2 atau jam 3 dini hari. begitu juga dengan malam itu karna keasykkan nonton serian drama korea 4 episode yang telah menunggu ku dalam 2 minggu ini aku selesein tanpa berhenti. aku tak menyadari kalau ternyata jarum jam telah menunjuk ke arah angka 2.30 dini hari ketika lampu ruang baca ayahku mengedip ngedip hidup mati. 

Di sela-sela suara film yang aku tonton sama-samar aku mendengar tawa riang dan cekikan serta cengkrama ringan perempuan perempuan muda yang terdengar sedang mandi bersama sama. suara mereka berasal dari sudut samping kanan dapur rumahku. kebetulan di situ ada kran air PAM yang sengaja di tambah oleh Ayahku untuk tempat orang mencuci perkakas memasak pada saat acara nikahan adik perempuanku tahun kemaren. sejak selesai helatan itu tidak pernah sekalipun kami mempergunakan kran air itu karna memang letaknya di luar rumah. aku sangat heran kenapa dini hari seperti ini ada yang mengambil air disitu malahan kedengearannya sedang mandi beramai-ramai sambil bercengkrama tapi aku sama sekali tidak dapat menangkap apa yang jadi pembicaraan mereka. jangan-jangan tetangga sebelah nih sengaja memanfaatkan air PAM kami tengah malam agar tidak ketahuan. 

Karna rasa penasaran tentang siapa mereka dan walaupun ada sedikit rasa takut aku tetap beranikan diri untuk membuka jendela ruangan baca tempat aku menonton yang kebetulan dapat melihat keadaan di samping dapur ku dengan leluasa karna memang masih satu dinding lurus. kreeeeek, aku membuka jendela pelan-pelan sambil perlahan melihat kearah kran air itu untuk memastikan siapa sih mereka yang gila mandi sambil tertawatawa tengah malam begini. wuuuuuuaaaah seketika setelah jendela terbuka dan kepala ku menengok keluar yang aku saksikan hanya suasana kosong gelap dan sunyi, sama sekali tidak ada bekas seperti ada orang yang telah memanfaatkan kran air itu ataupun jejak jejak pernah ada orang beramai ramai habis mandi di tempat itu. lantai semen petakan 1.5 m² yang mengelilingi kran air itu kering sama sekali tidak ada tetesan air, gglleeeeek ... jantung ku langsung berpacu kencang seketika... "apa apa an ini ... kenapa aku diganggu lagi sih" aku membatin sambil menutup jendela sekali hentaman. 

Namun sesaat setelah jendela aku kunci suara canda tawa perempuan-perempuan muda serta gemercikan semburan air kembali terdengar malahan suaranya kali ini semakin keras. Degup jantunku semakin berpacu jauh lebih cepat dari sebelumnya namun rasa penasaranku seakan memaksa syaraf syaraf otakku untuk memerintahkan kedua tangan ku kembali membuka jendela dengan cepat dan mencodongkan kan badanku keluar jendela agar mata ku dapat melihat dengan leluasa keadaan disekeliling tempat kran air itu bertengger. sama seperti sebelumnya suara suara tawa perempuan itu seketika hilang dan berganti dengan suasana gelap dan sunyi, benar benar sunyi bahkan aku tidak mendengar sedikitpun hembusan angin. 

Saat itu keringat dingin mulai membanjiri tubuhku dan aku tak dapat bernafas dengan baik karna udara-udara yang seharusnya melalui rongga-rongga tenggerokkan ku seolah olah tercekat walaupun aku telah berusaha keras untuk menghirupnya.Plaaaaak jendela aku tarik dengan kasar dan aku susah payah berusaha untuk menguncinya karna kedua tanganku gemetaran dan tubuhku seperti tergoncang. tetapi sama dengan sebelumnya sesaat setelah jendela kembali terkunci suara gemercik air dan suara cengkrama riang beberapa perempuan kembali terdengar semakin keras bahkan suara tertawanya menjadi melengking semakin tinggi, aku berdiri kaku tak mampu bergerak sedikitpun dari posisi aku berdiri di dekat jendela. aku gemetaran dan merasakan semua bulu-bulu roma ditengkuk ku merinding. 

Apa lagi ini, siapa lagi mereka kenapa mereka menggangguku lagi. Aku berusaha mengatur nafas dan menguatkan keberanian ku untuk kabur ke kamar kedua orang tua ku yang berada diseberang ruang baca tempat ku saat itu. Aku hanya perlu membuka pintu dan menyeberangi gang selebar 1 meter untuk dapat mencapai ke pintu kamar kedua orang tuaku, namun ketika aku melangkah keluar aku malah mendengar langkah kaki berat dari ruang depan berjalan menyusuri ruang tengah rumah ku menuju ke arah gang tempat aku berdiri saat itu. suara langkah berat itu berasal dari sepasang kaki nenek tua yang berbadan tambun, nenek itu mengenakan tutup kepala putih seperti dari bahan rajutan dan  daster dalam semata kaki. yang menarik perhatianku adalah sekumpulan kunci kunci tua yang tergantung dengan tali dan melingkari pinggang nenek tua itu. kumpulan kunci-kuci tua itu bergemericing seirama dengan langkahnya. aku termanggu tak bisa bergerak bahkan untuk mengalihkan pandangan ku dari nenek itupun aku tak sanggup. selangkah demi selangkah nenek itu berjalan ke arah aku berdiri. nenek itu menghentakan kaki kanannya kelantai sesaat kemudin mengangkat kaki kirinya dengan sedikit kesusahan. bersamaan dengan hentakan kaki kiri nenek itu menyentuh lantai, sekumpulan kunci yang tergantung di pinggang nenek itupun ikut berbunyi, "criiiing". kaki kanan, kaki kiri "criiiiing", kaki kanan kaki kiri "criiiiiiing".begitu terus hingga jarak nenek itu dengan ku semakin dekat dan semakin dekat, hingga nenek itu hanya berada dua langkah di depan ku, dia mengangkat tangan kanannya seperti hendak menggapai ku dengan perlahan, dan bola mataku seaakan mau copot menyaksikan kedua mata nenek itu menatap lurus ke arah bola mataku, nafasku tercekat dan tubuhku benar benar kaku hingga kaki ku tak mampu lagi menopang berat tubuhku, aku ambruk kelantai dan menghantam pintu kayu ruang baca sehingga menimbulkan suara yang cukup keras untuk membangunkan kedua orangtua ku dari tidur nyenyak mereka. 


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...